Pages

RSS

Welcome to my Blog
Hope you enjoy reading.

Tampilkan postingan dengan label vacation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vacation. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Januari 2020

Japan, I'm in Love


Pernah ga kamu jatuh cinta?
Masih ingat rasanya jatuh cinta?
Menggebu? Iya
Ga berenti tersenyum? Iya
Wajah sumringah? Iya
Bawaan happy terus? Iya
Eh, tapi kalo jatuh cinta sama kamu pakai jatuh bangun deh kayaknya. Yang penting sama kamu. Iya. Kamu.

Inget-inget deh rasa itu.
Ya. Rasa itu.
Itu rasa aku ke kamu.
Gimana engga,
Kamu itu bikin aku sejuk terus.
Kamu itu bikin aku lupa berkedip.
Kamu itu bikin aku nyaman..
Siapa yang bisa nolak pesonamu itu.
Pengen cepet-cepet ketemu lagi.
Aaaaaaaakkk
Can't help falling in love with you

Cinta itu sederhana
Yang rumit itu kamu
Mencintaimu itu mudah
Yang sulit adalah
Membuatmu juga mencintaiku
_langit sore-rumit_

Tapi sepertinya bakal bertepuk sebelah tangan deh. Huhu.
Walaupun ku bukan 'hime-chan' ku masih menginginkanmu.
Buat ketemu, harus banyak yang dipertimbangkan. Mulai dari waktu sampe anggaran.
Jauh di lubuk hatiku masih ada kamu.
Japan, I'm in Love with you


Gimana ga jatuh hati, toiletnya (ini ngebahas toilet banget yak? Etapi emang bener ini cinta-pada-rasa-pertama-ku. Ngerti kan maksudnya?) bikin nyaman banget. Kaya gini niihh


Kebayang kaaan abis kena semriwingnya angin musim gugur terus dapet toilet kaya gini tu rasanya kaya lagi dipelukanmu. Iya. Kamu. #eh. Anget maksudnyaaa. Hehe

Ga cuma toiletnya kok. Sebagai pejalan kaki aktif-tapi ga kurus kurus- pedestriannya nyaman banget, bahkan jadwal kereta selalu ontime. Sebagai bukan anak kereta, shinkansen dan kereta lainnya nyaman banget sepanjang naiknya bukan jam berangkat atau pulang kerja.
Musuh jalan kaki di kebanyakan kota di Indonesia: debu dan asap knalpot sehingga bersin=meler
Musuh jalan kaki di beberapa kota besar di Jepang saat musim gugur: angin semriwing=meler
Hatchi.


Masih ga menyangka bisa sejauh ini. Sebuah ketidaksengajaan untuk jatuh cinta.
Semenyenangkan ini
Tidak disangka-sangka.
Bibir tak berhenti tuk melengkungkan senyumnya.
Ingin ku berteriak

Japan, I'm in Love with you!!♥♥♥



Hingga kejamnya waktu
Menarik paksa kau dari pelukku
Lalu kita kembali menabung rasa rindu

Dan tunggulah aku di sana....
_Fiersa Besari-Celengan Rindu_

Sabtu, 12 Oktober 2019

#gugur


Rabu, 17 Juli 2019

Bandara Baru (Lagi!)

Jalan Menuju Kertajati #bukanmobilsaya


Dulu, Bandung adalah kota yang pernah menjadi cita-cita untuk kudatangi. Sekali menginjakkan kaki di Bandung, ternyata Bandung memanggilku lagi dan lagi dengan caranya. Masih belum move on, terakhir, Bandung memanggilku dalam sebuah longtrip pada short-escape ku.

Juli 2019 Bandung memanggilku melalui Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Majalengka. This is a first airport by Governor! Alias tingkat provinsi. Sempat terkagum-kagum sebelum menemukan fakta bahwa sudah ada bandar udara Abdul Rachman Saleh Malang yang juga dikelola provinsi. Trend ternyata tidak hanya sekedar fashion dan makanan saja pemirsa. Mungkin trend juga mulai bergeser ke kepemilikan bandar udara oleh provinsi setelah sebelumnya Bupati dan Walikota berebut mengkaji wilayahnya sebagai 'pasar' yang baik untuk pembangunan bandar udara. Sesuatu yang dianggap menjanjikan sebagai penambah income dan peningkatan ekonomi daerah.


Yakin??
Pada kondisi saat ini dimana okupansi, di peak season bahkan, turun mencapai 24 atau 40 persen tentu saja membuat Angkasa Pura sebagai pengelola bandar udara memutar otak.

Apakah ini buruk? Ya dan Tidak.
Buruk tentu saja bagi dunia penerbangan karena bisa jadi terlewat dalam forecasting mereka walaupun ada juga yang melihat peluang lain. Yang pasti dibidang pengangkutan dan perhubungan darat dan air kondisi ini menjadi trigger bagi mereka untuk kembali bergeliat dan berinovasi. Bisa jadi perekonomian di daerah pekerja terjadi kenaikan juga.


Kembali lagi ke bandar udara milik provinsi. Setelah hampir di setiap kota berlomba-lomba memiliki kemewahan bandar udara kini saatnya provinsi yang ingin merasakan kemewahan pendapatan dari kepemilikan bandara yang tentu saja tidak dibangun pada lokasi kota besar. Oiya, next bakal di resmikan juga lho Yogyakarta International Airport di Kulonprogo. Udah tau kan? Lokasinya lagi-lagi bukan di kota besar, apalagi alasannya selain untuk memacu peningkatan dan pemerataan perekonomian daerah. Apalagi sesuai Perda No 22 tahun 2010 tentang RTRW Provinsi Jawa Barat 2009-2029 tertulis bahwa Majalengka akan diarahkan menjadi Aerocity dan menjadikan Bandar Udara Kertajadi sebagai Pusat Persebaran Sekunder menggantikan Bandar Udara Husein Sastranegara yang jadi Pusat Persebaran Tersier alias jumlah penerbangan dan jarak terbangnya lebih sedikit. Eh, tapi kenapa tahun 2016 kemaren bandaranya diperbaiki dan dikembangkan?


Ingat! Planner hanyalah merencanakan. Tetap ada pemangku kewenangan yang membuat kebijakan gaes. Ini tuh ibarat kita sebagai makhluk Tuhan hanya bisa berencana, gitu gak sih? Hehe


Terlepas dari alasan dan kontroversi Bandara Kertajati dibangun, gampang gak sih mau kesana? Sejauh ini bandara terjauh dari pusat kota adalah Bandara Soekarno Hatta (kayaknya?) karena walaupun Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru dan Bandara Supadio Pontianak jauh tapi akses cukup lapang (baca: untuk kendaraan pribadi. Karen untuk kendaraan umum masih sulit di Borneo). Bandara Kertajadi ini mengingatkanku untuk menempuh jalur darat dan udara (untungnya ga perlu nyebrang melalui kapal ferry yah! Fyuuuh) sebelum mencapai kota tujuan. Perjalanan hampir 200km menuju bandara (dari pusat kota Bandung) yang ditempuh sekitar 3 jam yang 90% nya melalui tol #tears.

Beruntungnya pemerintah menyediakan fasilitas transportasi darat menuju pusat kota. Dan beruntungnya gratis! Terima kasih Pemerintah! Saranghaeyo #hug. Setelah sebelumnya ditetapkan akan gratis selama sebelumnya akhirnya seminggu setelah launch di tetapkan gratis menjadi 1 tahun! Lumayan hemat budget bagi penumpang dari arah Bandung. Suatu pancingan yang cukup bagus untuk mendukung terwujudnya Aerocity di Majalengka.

Thanks damriindonesia

Plusnya lagi nih,, beberapa penerbangan yang dialihkan dari BDO ke KJT mengalami penurunan harga. Bukan penurunan sih sebenernya, hanya kembali ke harga asal (yang bukan tarif bawah juga kayaknya T.T). Bandaranya bagus dan luas walaupun belum seluruhnya dapat dioperasikan.

Minusnya setidaknya harus menyiapkan waktu 4 sd 6 jam sebelum keberangkatan untuk bisa naik bus gratis. Jadwal keberangkatan dan tarif normalnya bisa di cek di IG @damriindonesia ya. Nah, jika selanjutnya sudah bisa terintegrasi dengan transportasi lain seperti kereta cepat baik dari pusat kota Bandung maupun dari daerah lain bakal oke tuh. Eh, tapi tunggu hasil pengkajiannya aja deh untuk impact nya.


Semoga ke depannya perhubungan di Indonesia semakin terintegrasi dan semakin maju bukan hanya jadi trademark aja.

Oiya, ke Bandung ngapain aja? Jangan kepo deh! #hehe




Source:
https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20171130220816-92-259399/sempat-dicoret-bandara-karawang-siap-dibangun-2032
https://m.detik.com/finance/infrastruktur/d-4511636/sejarah-panjang-bandara-kertajati-yang-masih-sepi


Minggu, 19 Mei 2019

#ayojalan Balikpapan

Ayo wisata Balikpapan!


Haha!
Sebelum lupa mau ngasih rekomendasi tempat jalan di Balikpapan mending kita cerita dulu tempat wisata di daerah Samboja yang bisa di datangi jika berkunjung ke Balikpapan. Samboja ini walopun agak ke pinggiran Balikpapan tapi bnyak lho tempat wisatanya! Eh, apa memang kebanyakan tempat wisata di daerah suburb ya. Hehe. Lets check this out!


1. Bukit Bangkirai


First of all, Bukit Bangkirai!
Hutan dan kawasan konservasi milik negara ini dibuka sebagian untuk umum sebagai kawasan rekreasi. Banyak sekali jenis tanaman yang di konservasi, namun hal yang paling menarik di sana bukanlah konservasi anggrek namun Canopy Bridge.

Apasih Canopy Bridge? Canopy Bridge adalah sejenis jembatan gantung di antara pohon tinggi yang dibuat sedemikian rupa. Sensasinya? Brrrr. Yang takut ketinggian kayaknya perlu banyak berdoa deh. Hihii. Tapi spotnya cukup instagramable juga kok. Buktinya banyak spot yang biasa dikunjungi untuk berfoto tema tertentu, seperti prewedding maupun foto kartinian. Untuk menuju kesana kalau bisa jangan saat musim hujan, karena aksesnya tidak semulus jalan di ibukota.


2. Batu Dinding


Tempat rekomendasi ke dua nih!
Baca 'surat untuk Fajar' untuk review perjalanan lengkapnya. Rasanya ketagihan untuk ke sana lagi walaupun belum ada waktu yang tepat lagi karena bener-bener eyegasm! Duh, gabisa ngasih rekomendasi lagi selain 'yuk kesini lagi!'


3. Kawasan konservasi


Banyak sekali kawasan konservasi di perjalanan menuju Samboja. Setidaknya kawasan konservasi buaya di Teritip, dan konservasi beruang madu yang wajib didatangi. Belum lagi kebun raya, dan konservasi sungai Wain. Jika konservasi buaya dianggap cukup 'mengerikan' untuk dijadikan wisata edukasi anak mungkin wisata beruang madu bisa dianggap lebih 'aman' dan lebih 'lucu' walaupun tetap saja butuh pengawasan lebih. Tapi setidaknya melihat beruang makan buah-buahan tidak bisa kena sensor dibanding melihat buaya makan ayam hidup bukan? Ah iya, kalo datang kemari lebih baik pada saat jam makannya sekitar jam 9 dan jam 2 siang kalo gamau 'hanya' lihat beruang tidur. Hihihi


4. Kuliner Tahu Sumedang


Last but not least, harus ada wisata kulinernya. Pada setiap perjalanan antar kota biasanya ada rest area favorit dong, kali ini rekomendasi jatuh ke kawasna km.50 yaitu Rumah Makan Tahu Sumedang. Lokasi ini gapernah sepi, baik mereka yang sedang dalam perjalanan Balikpapan-Samarinda ataupun yang sengaja ingin 'menyepi' di sana. Bukan menyepi sih namanya kalo ruameee banget! Maklum, katanya tahunya selalu freash dan dikirim langsung dari Sumedang setiap harinya. Walaupun harganya sedikit mencekik, tapi nampaknya cukup memuaskan hati para pendatang yang ada di kota perantauan.


Masih banyak lagi sesungguhnya tampat wisata terutama pantai yang bisa di kunjungi di daerah Samboja. Ayok, jalan ke Balikpapan!



Pic: google, koleksi pribadi

Minggu, 10 Juni 2018

Surat untuk Fajar

Teruntuk Fajar yang cemburu kepada Senja,,


Twilight



Senja memang addictive, hanya mampir sekejap mata sebagai pertanda bahwa kita harus berhenti sebentar sebelum mulai berlari lagi. Twilight!! Mungkin itu persamaan senja dan fajar yang bisa kita lihat di waktu yang berbeda.



Berikut ceritaku mengejar sang Fajar,,







Bertahun-tahun di tanah rantau bukan berarti sudah hapal semua tempat disini, bisajadi justru menutup untuk mengenal dunia luar dengan harapan segera berpindah ke lain ladang. Tapi ternyata sampai detik ini pun masih survive di tempat ini #amazing #alhamdulillah. Maka kesinilah kami,,

Dimulai dari janji temu jam 3 pagi yang sudah disepakati di penghujung senja. Berbekal jaket untuk menghalau dingin akhirnya berangkatlah kami menempuh ±70km perjalanan yang ±20km nya jalan sempit berkelok tanpa aspal melewati rumah warga dan ladang buah naga sampai akhirnya kami harus mengganti kendaraan.
Jadi ceritanya ada beberapa yang naik mobil atau pakai motor yang sudah dipastikan tidak akan kuat nanjak dan rawan jeblok di jalan licin (luar biasa banget lah medannya). Oiya, disediakan ojek disini untuk menempuh ±2km dengan harga setara naek ojek online 20km.
Kita masih harus jalan menanjak lagi sekitar 20 menit setelah jalur kendaraan habis. Jalan hati-hati di gelapnya malam didampingi jurang di kanan dan kiri. Untungnya semalam ga hujan, jadi jalan tidak terlalu licin.

Oiyaa bagi yang jarang olahraga dan mau kesini disarankan beberapa hal
-stretching dulu sebelum nanjak atau nanti badan bakal pegel-pegel dan capek atau bahkan kram di tengah jalan (ini sih yang pling bahaya, untung kemaren ada yang kram sebelum nanjak di bebatuan)
-pakai baju tertutup kecuali mau masuk angin dan badan kegores pas mau jalan di lorong batu
-pakai kaos kaki dan sepatu boot kalo bisa. Karena banyak hewan dan rumput liar yang bisa bikin alergi badan. Dan sayang banget sih kalo harus pake sepatu unyu unyu kesini.


Dawn



Setelah berjalan di kegelapan lumayan lama dan nafas sudah megap2 akhirnya berhentilah kita di satu gundukan batu untuk beristirahat dan mencoba menyehatkan mata dengan hamparan yang terbentang sampai fajar menyingsing.


Terima kasih Fajar, karenamu akhirnya bisa kulihat juga karunia-Nya yang mungkin sempat kuabaikan. Bagiku, Fajar adalah perjuangan, beginning of day, beginning of fasting. Jika awalnya sudah sempurna, maka dya layaknya suplemen bagi hariku. Dan kesinilah aku berburu Fajar, keindahan yang patut diperjuangkan setelah melewati malam sunyi bercampur gelisah.


Batu dinding, Balikpapan



Batu dinding,,
Great wall of Balikpapan
Tanah diatas awan
Suatu keindahan yang patut diperjuangkan
Bersama berburu sang fajar
Mungkin suatu hari aku kan datang kembali ketika merindukan senja


Great wall of Balikpapan

















Negeri diatas awan